top of page

4 Lokasi Terbaik Penanaman Mangrove di Indonesia


Untuk memastikan keberhasilan penanaman mangrove, pemilihan lokasi yang tepat merupakan langkah  yang sangat penting, agar bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan dampak pada ekosistem pesisir.

Mangrove di Indonesia

Mangrove adalah jenis atau ekosistem tumbuhan yang mudah ditemui di daerah pasang surut dan biasanya mudah dikenali melalui bentuk akar nafasnya yang khas. Ekosistem mangrove memiliki manfaat dan fungsi yang beragam di antaranya adalah sebagai pelindung pantai dari ombak dan angin kencang, penahan abrasi pantai, penampung air hujan sehingga dapat mencegah banjir, dan penyerap limbah yang mencemari perairan.

Selain itu, mangrove juga menjadi feeding ground atau tempat mencari makan berbagai jenis hewan laut dan dimanfaatkan sebagai tempat berlindung berbagai jenis binatang seperti larva ikan, tempat memijah berbagai jenis ikan dan udang (spawning ground), dan habitat dari berbagai jenis burung air.

Indonesia memiliki 23% dari keseluruhan ekosistem mangrove dunia atau sekitar 3 juta hektare mangrove yang tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia. Akan tetapi, hampir 70% dari ekosistem mangrove yang ada di Indonesia rusak.


Dalam upaya menghadapi tantangan ini, perlu dilaksanakan restorasi mangrove dengan metode dan pendekatan yang tepat, sehingga usaha konservasi dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang diinginkan.


Artikel ini akan membahas empat lokasi terbaik yang cocok untuk kegiatan penanaman mangrove di Indonesia.


Daftar Isi:


Pemilihan Lokasi Penanaman

Untuk memastikan keberhasilan penanaman mangrove, pemilihan lokasi yang tepat merupakan langkah yang sangat penting, agar bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan dampak pada ekosistem pesisir. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan sebelum pemilihan lokasi penanaman mangrove adalah sebagai berikut:


a. Jenis Tanah

Jenis tanah adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam pemilihan lokasi penanaman mangrove. Jenis tanah pada ekosistem mangrove umumnya berupa lumur/lempung, lumpur berpasir, dan pasir. Karakteristik tanah ini berperan penting dalam pertumbuhan mangrove. Tanah jenis lumur, misalnya, dapat membuat akar mangrove tumbuh dengan stabil pada kondisi pasang surut air.


Sementara itu, tanah lumpur berpasir dan pasir, dengan teksturnya yang berbeda, berpengaruh terhadap kemampuan mangrove untuk menyerap nutrisi dan air yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, pengecekan kondisi tanah di lokasi penanaman perlu dilakukan sebelum melakukan kegiatan penanaman mangrove.


b. Jenis Air

Mangrove adalah tumbuhan yang sangat adaptif dan dapat tumbuh di berbagai jenis air, termasuk air tawar, payau, dan air asin. Kondisi air yang sesuai sangat memengaruhi pertumbuhan bibit mangrove, misalnya, mangrove dapat tumbuh lebih baik di daerah dengan air payau atau asin, yang menawarkan kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat aslinya di pesisir.


Namun, ada juga jenis mangrove tertentu seperti jenis Soneratia sp, Rhizophora sp, Xylocarpus sp, Pemphis sp, Lumnitzera sp, Bruguiera sp., dan Avicenia sp. yang dapat tumbuh dengan baik di lingkungan air tawar.


c. Kandungan Mikroba

Mikroba, seperti bakteri dan fungi, berperan penting dalam mendekomposisi material organik. Lingkungan yang kaya akan mikroba dapat mendukung pertumbuhan bibit mangrove dengan menghasilkan nutrisi bagi mangrove.


Menurut penelitian dari Poedjirahajoe (2006), komposisi mikroba terutama plankton pada suatu perairan yang baik untuk melakukan penanaman mangrove adalah pada rentang >250 individu plankton/liter. Hal tersebut juga dapat dijadikan sebagai penentu kesuburan perairan, karenaplankton (fitoplankton dan zooplankton) merupakan sumber pakan bagi biota perairan. Banyaknya plankton pada suatu perairan juga menjadi tolokukur bahwa daerah tersebut cocok sebagai tempat tumbuh dan berkembang biak ekosistem mangrove.


d. Kandungan Kimia

Kandungan kimia seperti kandungan nitrogen, tingkat oksigen terlarut (DO), pH tanah, kejenuhan basa, unsur hara, kandungan bahan organik, dan sejumlah parameter lainnya menjadi penentu pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup mangrove. Kandungan nitrogen, misalnya, menjadi nutrisi penting dalam pertumbuhan mangrove, selain itu tingkat DO yang cukup tinggi dalam air juga berpengaruh terhadap proses respirasi mangrove dan organisme laut lainnya yang berada dalam ekosistem.


Oleh karena itu sebelum menentukan lokasi penanaman mangrove kita perlu memahami kondisi kimia tanah untuk dapat menentukan pengolahan tanah yang tepat. Memahami parameter ini dapat membantu kita memastikan bahwa bibit mangrove dapat tumbuh dengan baik.

e. Tingkat Kemiringan Pantai

Tingkat kemiringan pantai menjadi faktor penting yang memengaruhi struktur mangrove, komposisi dan distribusi jenis, serta luas kawasan. Karakteristik pantai, seperti luas dan panjang pantai, berhubungan erat dengan penggenangan dan sedimentasi.


Kemiringan dan pasang surut adalah dua hal yang tidak terpisahkan karena sifatnya yang saling memengaruhi satu sama lain.


Kemiringan pantai, misalnya, menjadi faktor penting yang mempengaruhi karakteristik struktur mangrove, khususnya ukuran serta luasan mangrove. Dengan semakin datarnya pantai dan semakin besar pasang surut, semakin lebar pula ekosistem mangrove yang akan tumbuh.


Beberapa jenis mangrove seperti Rhizophora stylosa dan Avicennia alba juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada kemiringan 1% sampai 5%, sedangkan jenis Avicennia marina dapat tumbuh pada kemiringan 1% sampai 4%.


Selain itu kemiringan pesisir pantai pada ekosistem mangrove perlu menjadi perhatian karena di dalam setiap perencanaan dan pemilihan lokasi mangrove perlu dikaji dengan baik, karena kemiringan pantai ini juga sangat berpengaruh kepada lebar jalur hijau dan pasang surut air laut.


f. Salinitas

Salinitas atau tingkat garam dalam air adalah aspek penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan lokasi penanaman mangrove. Mangrove adalah tumbuhan yang sangat toleran terhadap salinitas yang bervariasi, dan berbagai jenis mangrove dapat ditemukan tumbuh baik di lingkungan dengan berbagai tingkat salinitas.


Umumnya mangrove dapat tumbuh subur di daerah estuari (wilayah pesisir semi tertutup dengan satu sungai atau lebih yang mengalir dan terhubung bebas dengan laut terbuka) dengan salinitas 10% sampai dengan 30%.


Lokasi dengan tingkat salinitas yang tepat tentunya dapat mendukung pertumbuhan mangrove. Walaupun dengan kemampuan adaptasi yang tinggi, salinitas yang terlalu rendah atau tinggi dapat mempengaruhi kemampuan mangrove dalam menyerap air dan nutrisi yang diperlukan.


g. Ketebalan Lumpur

Ketebalan lumpur adalah faktor yang penting dalam pembentukan ekosistem mangrove. Mangrove sebagai tanaman yang memiliki akar-akar yang merayap di dalam lumpur dan membutuhkan lapisan lumpur yang cukup tebal untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketebalan lumpur yang sesuai memberikan dukungan yang diperlukan bagi akar mangrove untuk menjangkau sumber air dan nutrisi di bawah permukaan tanah.


Selain itu ketebalan lumpur juga mempengaruhi jenis mangrove yang akan menempati lingkungan tersebut. Tingkat ketebalan lumpur juga memiliki hubungan dengan tingkat kesuburan dan bahan organik yang terkandung di dalamnya. Lumpur dapat digunakan sebagai petunjuk kestabilan lingkungan suatu ekosistem, yang apabila semakin tebal lumpur maka kondisi kawasan tersebut lebih stabil dibandingkan ketebalan lumpur yang tipis.

Substrat tanah (permukaan di mana sebuah organisme (seperti tumbuhan, fungus dan hewan hidup) juga sangat menentukan kehidupan ekosistem mangrove. Tipe substrat yang cocok untuk pertumbuhan mangrove adalah lumpur lunak, yang mengandung silt (debu) dan clay (liat) dan bahan-bahan organik yang lembut.


Tipe tanah jenis silt dan clay juga membantu perkembangbiakan mangrove dengan memberikan bantalan dan menangkap buah mangrove yang jatuh ketika sudah masak, proses ini juga yang menentukan kerapatan atau tidaknya suatu ekosistem mangrove. Sehingga dalam suatu perencanaan dan pemilihan lokasi mangrove dibutuhkan peta-peta kondisi lingkungan yang dapat menjadi acuan lokasi penanaman mangrove dan memastikan dapat memberikan cukup stabilitas dan nutrisi yang diperlukan bagi pertumbuhan mangrove.


h. Kerapatan Tanaman

Kerapatan spesies memberikan petunjuk tentang keanekaragaman spesies dalam ekosistem mangrove. Keberhasilan penanaman mangrove tidak hanya tergantung pada spesies dan kondisi lingkungan, tetapi juga pada seberapa rapat mangrove ditanam. Penanaman dengan kerapatan yang tepat memungkinkan mangrove bersaing dengan lebih baik untuk mendapatkan nutrisi, cahaya matahari, dan ruang yang tersedia.


Kerapatan tanaman yang direkomendasikan biasanya lebih dari 7.000 individu per hektar. Dengan kerapatan tersebut menandakan bahwa persebaran bibit mangrove di lokasi penanaman cukup bagus, sebagaimana dalam pedoman sistem silvikultur ekosistem mangrove telah ditetapkan bahwa pembibitan alami yang baik untuk ekosistem mangrove apabila persebarannya sekitar 2.500 batang/ha.


Rekomendasi Lokasi Penanaman Mangrove di Indonesia


1. Pulau Harapan, Kepulauan Seribu

Pulau Harapan, Kepulauan Seribu adalah salah satu lokasi penanaman mangrove yang dapat dilakukan di Indonesia.

Pulau Harapan, Kepulauan Seribu adalah salah satu lokasi penanaman mangrove yang dapat dilakukan di Indonesia.

Program CRS yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat

Pesisir ini memiliki ombak yang tidak terlalu besar, substratnya berupa lumpur tebal, selalu digenangi air laut, dan memiliki intensitas matahari yang cukup untuk persemaian hingga penanaman bibit mangrove. Selain itu, Pulau Harapan juga memiliki keanekaragaman jenis-jenis mangrove antara lain marga Rhizophora, Avicennia, dan Bruguiera.


2. Kawasan Pesisir Jembrana, Bali

Kawasan Jembrana, Bali adalah salah satu kawasan konservasi yang memiliki potensi vegetasi mangrove yang perlu dilestarikan.

Kawasan Jembrana, Bali adalah salah satu kawasan konservasi yang memiliki potensi vegetasi mangrove yang perlu dilestarikan. Kawasan Jembrana memiliki luas 3.532,52 Hektare yang terbagi menjadi dua kawasan konservasi yaitu Kawasan Konservasi Perairan dan Taman Pesisir Perancak (1.137,72 Hektare wilayah darat dan 1.165,50 Hektare wilayah laut) dan Kawasan Konservasi Perairan Melaya (1.229,30 Hektare).


Dengan luasnya kawasan konservasi dan potensi vegetasi mangrovenya yang tinggi, kawasan pesisir Jembrana juga memiliki karakteristik yang tepat dalam penanaman mangrove di Indonesia. Terdapatjenis substrat berupa pasir, selalu digenangi air laut, dan perairannya yang masih alami.


Selain itu kawasan ini juga menjadi destinasi ekowisata dan memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah seperti ikan-ikan karang, tuna, dan cakalang, serta biota laut lainnya seperti cumi-cumi dan lobster.


3. Pulau Dompak, Kepulauan Riau

Pulau Dompak, Riau merupakan kawasan kepulauan yang memiliki potensi pesisir seperti rumput laut, padang lamun, dan mangrove yang kaya.

Pulau Dompak, Riau merupakan kawasan kepulauan yang memiliki potensi pesisir seperti rumput laut, padang lamun, dan mangrove yang kaya. Wilayah pesisir Pulau Dompak di sepanjang pantainya juga terdapat ekosistem mangrove dengan jenis mangrove yang cukup beragam.


Selain itu, Pulau Dompak juga menjadi rumah dari berbagai biota laut yang dilindungi seperti lumba-lumba, pari manta, hingga duyung atau dugong. Pulau Dompak juga menjadi lokasi yang tepat untuk restorasi mangrove karena wilayah pesisirnya yang memiliki karakteristik substrat lumpur berpasir, memiliki gelombang yang tenang, dan selalu digenangi oleh air laut. Pulau Dompak menjadi lokasi penanaman yang baik untuk mangrove bertumbuh kembang.


4. Tanjung Pakis, Jawa Barat

Tanjung Pakis, Jawa Barat menjadi salah satu lokasi penanaman mangrove yang direkomendasikan di Pantai Utara Jawa.

Tanjung Pakis, Jawa Barat menjadi salah satu lokasi penanaman mangrove yang direkomendasikan di Pantai Utara Jawa. Pemilihan lokasi penanaman mangrove di Tanjung Pakis tentunya didasarkan oleh karakteristik ekosistem yang dimilikinya yang menunjang persemaian hingga pembesaran mangrove seperti jenis substratnya yang berupa lumpur tebal serta ombak yang tidak terlalu besar. Tanjung Pakis juga menjadi lokasi strategis dalam program Corporate Social Responsibility karena lokasinya yang berdekatan dengan pemukiman nelayan dan kelompok tani mangrove, serta aksesnya yang dekat dari wilayah perkotaan.


Program CRS yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat

Efisiensi Penanaman Mangrove di Indonesia

Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia, yaitu sekitar 23% dari total luas mangrove global yang tersebar di sepanjang garis pantai sepanjang 95.000 kilometer. Namun, alih fungsi lahan mangrove untuk kepentingan pertanian, tambak, hingga hunian menyebabkan Indonesia mengalami deforestasi mangrove sebesar 0,05 juta hektare setiap tahunnya. Akibatnya, Indonesia kehilangan 40% dari luas mangrove dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir dan menjadi negara dengan laju kerusakan mangrove tertinggi di dunia.


Lalu untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya restorasi mangrove yang masif dan tepat sasaran, agar tujuan konservasi dapat tercapai dan memberikan manfaat yang optimal. Salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan restorasi mangrove adalah pemilihan lokasi yang sesuai. Lokasi yang tepat akan memastikan bahwa bibit mangrove yang ditanam dapat berkembang dengan baik dan mendukung kesehatan ekosistem pesisir.


Untuk menentukan lokasi yang tepat dalam penanaman mangrove perlu mempertimbangkan hal-hal seperti jenis tanah, jenis air, kandungan mikroba, kandungan kimia, tingkat kemiringan pantai, salinitas, ketebalan lumpur, dan kerapatan tanaman. Berdasarkan kriteria tersebut, beberapa lokasi yang dapat direkomendasikan oleh CarbonEthics untuk melakukan restorasi mangrove atau program Corporate Social Responsibility adalah Pulau Harapan di Kepulauan Seribu, Kawasan Konservasi Jembrana Bali, Pulau Dompak di Riau, dan Pantai Tanjung Pakis di Jawa Barat yang dapat dilakukan melalui program Corporate Social Responsibility dari CarbonEthics. Karena melalui proses penelitian dan kajian dalam pemilihan lokasi dan metode yang tepat, penanaman mangrove bersama CarbonEthics juga turut mendukung ekonomi masyarakat pesisir. Selain itu, bibit mangrove yang ditanam juga dapat dipantau melalui sistem Digital Monitoring untuk memastikan mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.




Referensi


Akhmadi. 2022. Struktur Vegetasi Hutan Mangrove di Teluk Sampit Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah. Journal of Biological Science and Education. 3 (1) : 19 - 31.

p-ISSN2746-9786


D. C. Donato, J. B. Kauffman, D. Murdiyarso, S. Kurnianto, M. Stidham dan M. Kanninen. 2012. Mangrove adalah salah satu hutan terkaya karbon di kawasan tropis. Brief Cifor. 12 : 1 - 12.


Hastuti, E. D., S. Anggoro dan R. Pribadi. 2013. Pengaruh Jenis dan Kerapatan Vegetasi Mangrove terhadap Kandungan Cd dan Cr Sedimen di Wilayah Pesisir Semarang dan Demak . Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan : 331 - 336

ISBN 978-602-17001-1-2


Matatulaa, J., E. Poedjirahajoe, S. Pudyatmoko dan R. Sadono. 2018. Sebaran Spasial Kondisi Lingkungan Hutan Mangrove di pesisir Pantai Kota Kupang. Journal of Natural Resources and Environmental Management. 9 (2): 467 - 482.


Sahami, F. 2018. Penilaian Kondisi Mangrove Berdasarkan Tingkat Kerapatan Jenis. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 6 (2) : 33 - 40.


Souisa, F. N. J dan E. J. Tapotubun. 2018. Pendampingan Kelompok Pengelolaan Pesisir dalam Melestarikan Hutan Mangrove di Ohoi Ngilngof, Kabupaten Maluku Tenggara. Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat. 4 (1) : 38 - 46.

ISSN 2460-8572


Tambanaung, S., D. D. Pioh dan W. J. N. Kumolontang. 2018. Analisis Sifat Kimia Tanah pada Tanah yang di Tanami Tanaman Tomat (Solanum Iycopersicum L) di Desa Tonsewer Minahasa. Cocos. 10 (4) : 1 - 6.


Keberadaan Fitoplankton Pengaruhi Kesehatan dan Nafsu Makan Udang. Diakses pada 18 September, 2023, dari https://news.unair.ac.id/2019/08/19/keberadaan-fitoplankton-pengaruhi-kesehatan-dan-nafsu-makan-udang/


Topografi Kalimantan Tengah. Diakses pada 18 September, 2023, dari https://dishut.kalteng.go.id/page/88/topografi


Warga Pulau Serangan Tanam Mangrove Air Tawar. Diakses pada 18 September, 2023, dari https://news.republika.co.id/berita/nn822z/warga-pulau-serangan-tanam-mangrove-air-tawar


Tipe - Tipe Vegetasi Mangrove. Diakses pada 18 September, 2023, dari https://www.lalaukan.com/2016/06/tipe-tipe-vegetasi-mangrove.html


Cara Menanam Mangrove: Mulai Dari Pembibitan Hingga Perawatan. Diakses pada 18 September, 2023, dari https://wanaswara.com/cara-menanam-mangrove-pembibitan-perawatan/


433 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

コメント


bottom of page