top of page

Mangrove untuk Mengatasi Perubahan Iklim dan Polusi di Jakarta


Ekosistem Mangrove berperan besar terhadap penyerapan karbon dan polutan serta melindungi pesisir.
Hutan mangrove di Teluk Shenzhen, China (Sumber: Xinhua/Shutterstock)

Panas dan Polusi Jakarta


Perubahan iklim global, seperti kenaikan suhu global dan intensitas cuaca ekstrem, telah menjadi ancaman serius bagi banyak kota di seluruh dunia, termasuk Jakarta. Banjir, gelombang panas, dan kenaikan permukaan laut adalah beberapa dampak yang dapat merusak infrastruktur perkotaan dan mengancam kesejahteraan penduduk. Sementara itu, masalah polusi di perkotaan seperti Jakarta juga tidak bisa diabaikan. Polusi udara dari kendaraan bermotor dan industri dapat mengakibatkan kualitas udara yang buruk, memengaruhi kesehatan masyarakat, dan merusak lingkungan.


Dalam menghadapi permasalahan ini, perlu adanya solusi yang dapat mengurangi emisi karbon dan investasi dalam infrastruktur hijau di perkotaan. Salah satunya seperti penanaman dan pelestarian ekosistem mangrove.


Ekosistem mangrove memiliki berbagai keunggulan dan kemampuan untuk melindungi pesisir dan membantu menyaring polusi udara dan air yang menjadi permasalah Jakarta dan kota-kota perkotaan lainnya yang rentan terhadap perubahan iklim global dan masalah polusi perkotaan yang semakin mendesak.



Daftar Isi:




Mengenal Ekosistem Mangrove


A. Definisi dan Karakteristik Ekosistem Mangrove


Ekosistem mangrove adalah ekosistem yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Ekosistem mangrove berbeda dari pantai yang terletak di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih mendapatkan pengaruh dari pasang surut air laut.


Ekosistem mangrove dapat ditemukan di daerah sekitar khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di wilayah subtropika. Di Indonesia, luas ekosistem mangrove berkisar antara 3,5 hektar, menjadikannya ekosistem mangrove terluas di dunia, melebihi negara-negara seperti Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha), dan Australia (0,97 ha). Ekosistem mangrove di Indonesia mencakup sekitar 23% dari total luas ekosistem mangrove di dunia dan merupakan yang paling beragam dengan 92 spesies mangrove yang berbeda.


Di Indonesia, ekosistem mangrove yang luas dapat ditemukan terutama di sekitar wilayah Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan muara sungai-sungai besar. Wilayah ini mencakup pantai timur Sumatra serta pantai barat dan selatan Kalimantan.


Di pantai utara Jawa, hutan mangrove telah mengalami penurunan luas akibat kebutuhan penduduk akan lahan. Di bagian timur Indonesia, tepatnya di sepanjang Dangkalan Sahul, hutan mangrove yang masih dalam kondisi baik dapat ditemukan terutama di sekitar Teluk Bintuni. Ekosistem mangrove di Papua memiliki luas sekitar 1,3 juta hektar, yang merupakan sekitar sepertiga dari total luas hutan mangrove di seluruh Indonesia.


Ekosistem mangrove memiliki karakteristik yang unik, ditandai dengan akar-akarnya yang mencuat ke permukaan. Mereka tumbuh di perairan payau, yang merupakan campuran air tawar dan air asin, dan sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut.


Keberadaan ekosistem mangrove sering terkait dengan daerah pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Tumbuhan yang mendominasi ekosistem ini umumnya berasal dari genus yang serupa sehingga menciptakan hutan yang homogen.


Ekosistem mangrove juga memiliki kemampuan adaptasi terhadap air asin dan air tawar serta tahan terhadap faktor iklim yang disebabkan oleh sistem akarnya yang unik untuk bertahan di dasar laut yang lembab dan payau.





Program CRS yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat


B. Keunggulan Ekosistem Mangrove dan Keanekaragaman Hayatinya


Habitat mangrove merupakan daerah penghubung antara lingkungan darat dan lingkungan perairan, sehingga sifat-sifat yang dimiliki oleh berbagai fauna atau biota yang hidup di dalam ekosistem ini mempunyai ciri khas dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Afonso et al. 2016). Sebagai habitat yang cocok untuk kehidupan berbagai jenis fauna, maka tentunya pada kawasan ekosistem mangrove juga memiliki tingkat keanekaragaman jenis fauna yang berbeda. Ketergantungan organisme darat terhadap mangrove sangat luas, baik secara langsung maupun tidak langsung, bersifat menetap ataupun sementara.


Organisme yang hidup di sekitar kawasan ekosistem mangrove yang sifatnya sementara, umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, yang terdiri atas insekta, burung, kelelawar, monyet, lutung, kucing mangrove, garangan, dan ular; Sedangkan organisme yang menetap di kawasan ekosistem mangrove kebanyakan hidup pada substrat yang keras berlumpur dan di perairan di antara akar mangrove.


Fauna mangrove yang hidup pada substrat dengan cara berendam dalam lubang lumpur, berada di permukaan substrat ataupun menempel pada perakaran pepohonan. Ketika air surut, fauna tersebut dapat turun untuk mencari makanan. Beberapa jenis fauna yang banyak ditemukan di ekosistem mangrove Indonesia meliputi Gastropoda, Crustacea, Bivalvia, Hirudinea, Polychaeta, dan Amphibi.


Peran berbagai jenis fauna ini sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan unsur hara dalam ekosistem ini. Selain menjadi konsumen detritus, beberapa dari mereka juga berfungsi sebagai dekomposer zat organik yang tersebar di ekosistem (Afonso et al. 2016).


Selain itu, ekosistem mangrove juga berperan sebagai tempat hidup dan tempat pembesaran (nursery ground) berbagai jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti ikan bandeng, ikan kuwe, ikan buntal, ikan bawal, ikan sembilang, hingga ikan tembakul atau glodok yang dapat berjalan di darat. Ini menjadikan ekosistem mangrove tidak hanya penting dari sudut pandang ekologi tetapi juga ekonomi.



Mangrove dan Perannya Menangani Perubahan Iklim

Ekosistem mangrove dapat menjadi solusi alami dalam mencegah dan menangani perubahan iklim seperti peningkatan suhu bumi dan kenaikan air laut.
Perkampungan Sungai Nibung yang hidup berdampingan dengan mangrove di Muara Sungai Terus, Kalimantan. (Sumber: Oceanwise)

A. Menyerap Emisi Karbon yang Disebabkan Aktivitas Manusia


Ekosistem mangrove, yang sering dianggap sebagai hutan laut, memainkan peran yang sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim. Salah satu kontribusinya yang signifikan adalah kemampuannya menyerap emisi karbon dioksida (CO2) yang disebabkan oleh aktivitas manusia.


Hutan mangrove yang tumbuh di air payau memiliki kemampuan serapan karbon tinggi. Meskipun total hutan mangrove dunia hanya sekitar 1% dari luas hutan tropis, kemampuan ekosistem mangrove dalam menyimpan karbon sangatlah tinggi dibanding jenis ekosistem lainnya.


Mangrove seperti pada tanaman lainnya, menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis. Mereka menggunakan energi matahari untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi gula dan oksigen. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuan mangrove untuk menyerap karbon dalam jumlah besar di dalam tanah dan jaringan mereka.


Akar mangrove yang bercabang-cabang menciptakan lingkungan yang kaya akan lumpur dan endapan organik, yang ideal untuk mengikat karbon. Proses ini menghasilkan pengurangan emisi karbon dioksida dari atmosfer, membantu menjaga keseimbangan iklim global.


Selain itu, mangrove juga memiliki peran penting dalam melindungi pesisir dari dampak perubahan iklim. Dengan akar yang kuat, mereka berfungsi sebagai benteng alami yang mengurangi erosi pantai akibat naiknya permukaan laut dan badai tropis. Ini tidak hanya melindungi masyarakat pesisir dari banjir dan kerusakan, tetapi juga mempertahankan ekosistem pesisir yang penting.


Dalam kondisi perubahan iklim, perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove menjadi semakin krusial. Langkah-langkah untuk melestarikan ekosistem mangrove tidak hanya akan membantu dalam menyerap emisi karbon yang berlebihan tetapi juga akan membantu menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.


B. Perlindungan terhadap Abrasi dan Gelombang Pasang di Pesisir


Ekosistem mangrove memiliki peran yang luar biasa dalam mengurangi dampak abrasi pantai dan banjir yang disebabkan oleh kenaikan permukaan laut. Mangrove dapat berperan sebagai tanggul alami yang mampu menciptakan pengendapan lumpur sebagai penghalang alami untuk mencegah banjir rob.


Selain itu, kemampuan mangrove dalam menyerap air secara efisien juga membantu mengurangi durasi genangan air yang disebabkan oleh banjir. Dan mangrove juga berfungsi sebagai penghalang alami yang dapat menahan gelombang laut besar, mengurangi risiko abrasi pantai dan menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Salah satu contoh nyata yang menggambarkan peran penting ini dapat ditemukan di Kota Jakarta dan daerah sekitarnya.


Kenaikan permukaan laut, yang disebabkan oleh perubahan iklim, telah menjadi masalah serius bagi kota-kota pesisir di seluruh dunia. Jakarta, sebagai salah satu kota terpadat di dunia yang terletak di tepi laut, menghadapi ancaman serius dari abrasi pantai dan banjir. Namun, ekosistem mangrove di wilayah pesisir Jakarta Utara telah memainkan peran penting dalam melindungi kota ini.


Mangrove yang tumbuh di sepanjang pantai Jakarta bertindak sebagai "perisai alami" yang mengurangi dampak ombak laut. Akar-akar mangrove yang kuat dan rimbun mampu menahan tanah dan lumpur pesisir, sehingga mengurangi erosi pantai. Selain itu, mangrove juga berfungsi sebagai zona pelindung, menyerap energi ombak, dan memperlambat aliran air saat pasang laut, yang secara signifikan mengurangi risiko banjir.


Pada pergantian tahun 2019 ke 2020, Jakarta mengalami salah satu banjir terburuk dalam beberapa dekade, dan ekosistem mangrove membuktikan nilai pentingnya. Wilayah Jakarta Utara yang masih memiliki ekosistem mangrove yang sehat mengalami dampak banjir yang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Menendez et al. (2020), mangrove dapat mengurangi kenaikan air laut, serta dapat menanggulangi banjir rob dan erosi. Hal ini terjadi karena ekosistem mangrove memiliki kerapatan akar dan pohonnya dan persebarannya yang cenderung melingkupi bibir pantai. Akar-akar dari ekosistem mangrove juga mampu menahan kestabilan tanah di daerah pasang-surut dan mengurangi erosi. Akar, batang, dan kanopi mangrove juga dapat menghambat gelombang laut dan pasang surut jika terjadi badai. Berdasarkan penelitian McIvor et al. (2016), mangrove dapat mengurangi hingga 66% energi gelombang pada 100 m pertama lebar hutan. Mangrove juga dapat memberikan pertahanan adaptif ketika terjadi pendangkalan laut.



Bagaimana Ekosistem Mangrove Mengatasi Polusi di Jakarta


Ekosistem mangrove memiliki kemampuan dalam menyerap emisi karbon dan polusi udara lebih tinggi dibandingkan ekosistem lainnya.
Ekosistem mangrove memiliki kemampuan dalam menyerap emisi karbon dan polusi udara lebih tinggi dibandingkan ekosistem lainnya. (Sumber: Ardiles Rante/Vox)

A. Penyaring Polutan di Udara dan Air


Jakarta, sebagai salah satu kota metropolitan terpadat di dunia, sering kali menghadapi masalah polusi udara dan air yang serius. Dalam upaya menjaga kualitas udara dan perairan Jakarta, ekosistem mangrove menjadi sebuah solusi praktis sebagai penyaring polutan. Berikut uraian penjelasannya mengenai cara mangrove dalam menyaring polutan.


  • Penyaring Polutan dari Udara: Pohon-pohon mangrove memiliki daun dan akar yang mampu menangkap partikel-partikel polutan seperti debu, logam berat, dan senyawa kimia berbahaya lainnya (Yadav et al. 2023). Selain itu, ekosistem mangrove juga berkontribusi dalam menyeimbangkan kadar oksigen dan karbon dioksida di atmosfer. Melalui proses fotosintesis, mangrove menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara dan menghasilkan oksigen (O2), membantu mengurangi tingkat CO2 yang berkontribusi pada perubahan iklim global. Peningkatan jumlah pohon mangrove di wilayah pesisir Jakarta dapat berperan dalam menahan tingkat polusi karbon dioksida yang lebih tinggi dan menjaga iklim yang lebih stabil (Wilda et al. 2020). Selain penyaring udara, mangrove juga memiliki kemampuan dalam mengurangi efek panas perkotaan atau "urban heat island effect." Daun mangrove yang rimbun mampu memberikan teduhan dan mengurangi suhu udara di sekitarnya, memberikan kenyamanan bagi warga yang berkunjung ke area mangrove.


Program CRS yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat

  • Penyaring Polutan dari Air: Akar-akar mangrove yang bercabang-cabang menciptakan zona pelindung yang sangat efektif untuk menyaring polutan dari limbah industri dan domestik yang sering kali mencapai sungai dan saluran air. Lumpur yang mengendap di antara akar-akar mangrove mengandung banyak bahan organik dan sedimen yang dapat mengikat polutan seperti logam berat dan nutrien berlebih. Proses ini membantu membersihkan air sebelum mencapai ekosistem laut yang lebih dalam dan menjaga keseimbangan ekosistem serta mengurangi dampak negatif polusi pada biota laut. Selain itu, akar mangrove juga berperan dalam mengendalikan aliran air, mengurangi erosi tanah, dan memperlambat aliran air pasang yang dapat membawa polutan dari darat ke laut.




B. Pengolahan Limbah Organik di Lingkungan


Ekosistem mangrove juga memiliki kemampuan unik dalam mengatasi permasalahan limbah organik yang sering kali menjadi tantangan di daerah pesisir. Mangrove bukan hanya berfungsi sebagai penyaring polutan, tetapi juga berperan dalam pengolahan limbah organik secara alami.


Akar-akar mangrove memiliki kemampuan yang efisien dalam mengolah limbah organik dari air. Lumpur dan sedimen yang terkumpul di antara akar-akar mangrove mengandung bahan organik yang dapat mempercepat proses dekomposisi limbah organik. Mikroorganisme yang hidup dalam lumpur ini juga membantu menguraikan limbah organik, mengubahnya menjadi senyawa yang lebih sederhana, dan mengurangi tingkat polusi air (Zhang et al. 2021).


Selain itu mangrove juga memiliki kemampuan untuk menyerap nutrien berlebihan, seperti nitrogen dan fosfor, yang sering kali menjadi penyebab Algal Bloom (Ledakan populasi alga) yang berbahaya bagi biota dan lingkungan perairan. Akar-akar mangrove dapat menyerap nutrien ini dan mengurangi dampaknya pada ekosistem laut yang lebih dalam. Selain itu, perairan dengan ekosistem mangrove yang sehat memiliki tingkat oksigen yang lebih tinggi, sehingga mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang membantu dalam proses dekomposisi limbah.


Peran mangrove dalam mengatasi polusi di Jakarta lebih dari sekadar elemen ekologi. Perlindungan, pemulihan, dan pelestarian terhadap ekosistem mangrove merupakan langkah penting dalam mendukung kualitas hidup dan upaya mitigasi perubahan iklim yang dapat berdampak pada penduduk perkotaan serta masyarakat pesisir.



Tantangan dan Ancaman terhadap Ekosistem Mangrove di Jakarta


Urbanisasi dan penggunaan lahan pada pesisir menjadi alasan berkurangnya ekosistem mangrove di Indonesia
Pengalihfungsian ekosistem mangrove menjadi tambak atau hunian menjadi alasan berkurangnya ekosistem mangrove. (Sumber: Alex Punker/ I Stock)

A. Dampak Urbanisasi dan Perubahan Penggunaan Lahan


Peningkatan urbanisasi di wilayah perkotaan seperti konversi lahan menjadi pemukiman dan infrastruktur menjadi ancaman dari keberlanjutan ekosistem mangrove. Konversi lahan tersebut terjadi karena permintaan akan ruang perkotaan yang terus meningkat sehingga menyebabkan menyusutnya ekosistem mangrove. Urbanisasi juga membawa masalah pencemaran seperti meningkatnya limbah domestik dan industri sehingga merusak kualitas air dan tanah yang dapat mengganggu kehidupan biota laut dan merusak keberlanjutan ekosistem mangrove (Din et al. 2017).


Perubahan hidrologi adalah dampak lain dari urbanisasi. Pembangunan infrastruktur perkotaan seperti bendungan, saluran air, dan drainase dapat mengubah pola aliran air di daerah pesisir, mempengaruhi pasang surut air laut dan aliran sungai sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan reproduksi mangrove serta mengurangi kemampuan ekosistem dalam menghadapi perubahan iklim (Akram et al. 2023).


Urbanisasi juga dapat mengakibatkan alienasi habitat bagi berbagai spesies yang bergantung pada ekosistem mangrove. Kehilangan habitat dapat mengancam keberlanjutan populasi berbagai spesies, termasuk ikan, burung, dan hewan lainnya yang hidup di dalam dan sekitar kawasan mangrove.


Program CRS yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat

B. Ancaman Polusi dan Kerusakan Ekosistem Akibat Aktivitas Manusia


Ekosistem mangrove walaupun memiliki kemampuan menyerap polutan tetap saja apabila terpapar polutan yang tinggi akan mempengaruhi keseimbangan bahkan kerusakan ekosistemnya. Salah satu ancaman bagi ekosistem mangrove adalah polusi yang tinggi akan logam berat dan bahan kimia berbahaya yang dapat mempengaruhi reproduksi dan pertumbuhan mangrove.


Selain itu polusi yang tinggi juga dapat meracuni biota laut yang hidup di ekosistem mangrove, seperti ikan, kepiting, dan moluska. Dalam beberapa kasus, polusi dapat menyebabkan kematian massal biota di ekosistem pesisir.


Oleh karena itu untuk mengatasi dampak polusi pada ekosistem mangrove, berbagai upaya pemulihan dan rehabilitasi telah dilakukan. Salah satunya adalah pengelolaan limbah yang lebih baik untuk mencegah pencemaran air dan tanah mangrove. Selain itu, proyek-proyek restorasi mangrove yang melibatkan penanaman pohon mangrove telah dilakukan di berbagai wilayah pesisir salah satunya di Kepulauan Seribu, Jakarta. Dengan penanaman mangrove ini, diharapkan dapat memulihkan ekosistem mangrove yang rusak dan membantu mengatasi polusi yang berasal dari industri dan aktivitas manusia.


Selain dengan proyek rehabilitasi mangrove, kesadaran publik tentang pentingnya ekosistem mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan juga merupakan elemen kunci dalam upaya pemulihan. Partisipasi masyarakat tentang manfaat dan pentingnya ekosistem mangrove diharapkan dapat turut serta dalam tindakan yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi polusi dan emisi yang berasal dari aktivitas sehari-hari dan ikut melindungi dan menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.



Mangrove untuk Jakarta yang Lebih Baik


Oleh karena itu untuk mengatasi masalah polusi udara dan air yang semakin meningkat di Jakarta, CarbonEthics dan Transjakarta bekerjasama dalam kampanye #BersihBerdayaBestari. Melalui kampanye ini, masyarakat dapat turut serta berperan aktif dalam mengurangi tingkat polusi di Kota Jakarta serta melindungi dan merestorasi ekosistem mangrove di Kepulauan Seribu dengan melakukan penanaman mangrove melalui halaman carbonethics.co/sustainability-jakarta. Dengan aksi ini diharapkan masyarakat dapat turut berkontribusi secara positif dalam melindungi lingkungan dan merawat keseimbangan ekosistem mangrove untuk Indonesia yang lebih baik.





Referensi


Afonso, J. T., B. Atini, dan L. Ledheng. 2016. Keanekaragaman Jenis Fauna Di Kawasan Ekosistem Mangrove Pantai Atapupu Desa Jenilu Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu. Jurnal Pendidikan Biologi. 1 (1) : 4 -5.


Akram, H., S. Hussain, P. Mazumdar, K. O. Chua, T. E. Butt dan J. A. Harikrishna. 2023. Mangrove Health: A Review of Functions, Threats, and Challenges Associated with Mangrove Management Practices. Forest. 14 : 1-38.


Din, N., V. M. Ngo-Massou, G. L. Essomè-Koum, E. Ndema-Nsombo, E. Kottè-Mapoko dan L. Nyamsi-Moussian. 2017. Impact of Urbanization on the Evolution of Mangrove Ecosystems in the Wouri River Estuary (Douala Cameroon). Coastal Wetlands: Alteration and Remediation. 21 : 81 – 131.


Krauss, K. W., K. L. McKee, C. E. Lovelock, D. R. Cahoon, N. Saintilan, R. Reef dan L. Chen. 2013. How Mangrove Forests Adjust to Rising Sea Level. New Phytologist. 202 :19 – 34.


Lawrence, D. 1998. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Translated by T. Mack dan S. Anggraeni. The Great Barrier Reef Marine Park Authority. Townsville, Australia.


Mcivor, A., I. Möller, T. Spencer dan M. Spalding. 2012. Reduction of Wind and Swell Waves by Mangroves. Nat. Coast. Prot. Ser. : 1–27. ISSN 2050–7941


Menéndez, P., I. J. Losada, S. Torres-Ortega, S. Narayan dan M. W. Beck. 2020. The Global Flood Protection Benefits of Mangroves. Scientific Reports 10 (4404) : 1 - 11.


Noor, Y.R., M. Khazali, dan I.N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor.


Wilda, R., A. M. Hamdan dan R. Rahmi. 2020. A Review: The Use of Mangrove for Biomonitoring on Aquatic Environment. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering. 980 : 1 - 10.

DOI 10.1088/1757-899X/980/1/012083


Yadav, K. K., N. Gupta, S. Prasad, L. C. Malav, J. K. Bhutto, A. Ahmad, A. Gacem, B. Jeon, A. M. Fallatah, B. H. Asghar, M. M. S. Cabral-Pinto, N. S. Awwad, O. K. R. Alharbi, M. Alam dan S. Chaiprapat. 2023. An Eco-sustainable Approach Towards Heavy Metals Remediation by Mangroves from the Coastal Environment: A Critical Review. Marine Pollution Bulletin. 188 : 1 - 15.


Zhang, Y., L. Xiao, D. Guan, Y. Chen, M. Motelica-Heino, Y. Peng dan S. Y. Lee. 2021. The Role of Mangrove Fine Root Production and Decomposition on Soil Organic Carbon Component Ratios. Ecological Indicators. 125 : 1-10.


5 Facts About Mangroves and Why We Must Protect Them. Diakses pada 1 September 2023, dari https://www.unep-wcmc.org/en/news/5-facts-about-mangroves-and-why-we-must-protect-them


6 Daerah Persebaran Hutan Mangrove di Indonesia. Diakses pada 1 September 2023, dari https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/persebaran-hutan-mangrove-di-indonesia


Blue Carbon: The Hidden CO2 Sink That Pioneers Say Could Save The Planet. Diakses pada 1 September 2023, dari https://www.theguardian.com/environment/2021/nov/04/can-blue-carbon-make-offsetting-work-these-pioneers-think-so.


Developing a Management Plan for Erosion of Coastal Defences in Sungai Nibung, West Kalimantan, Indonesia. Diakses pada 5 September 2023, dari https://www.oceanwise.com.au/borneo-mangroves


Hutan Mangrove: Ciri-ciri, Fungsi dan Manfaatnya (Terbaru). Diakses pada 1 September 2023, dari https://lindungihutan.com/blog/hutan-mangrove/


Hutan Mangrove : Pengertian , Fungsi , Ciri-ciri dan Manfaatnya. Diakses pada 1 September 2023, dari https://faperta.umsu.ac.id/2023/05/24/hutan-mangrove-pengertian-fungsi-ciri-ciri-dan-manfaatnya/



Mangrove Conservation and Restoration: Protecting Indonesia’s “Climate Guardians”. Diakses pada 1 September 2023, dari https://www.worldbank.org/en/news/feature/2021/07/26/mangrove-conservation-and-restoration-protecting-indonesia-climate-guardians


Mangroves Near Chinese Cities Can Reduce Storm Surges by Over 2 Metres. Diakses pada 5 September 2023, dari https://www.newscientist.com/article/2360682-mangroves-near-chinese-cities-can-reduce-storm-surges-by-over-2-metres/


Mangroves: Nurseries for The World’s Seafood Supply. Diakses pada 1 September 2023, dari https://www.iucn.org/news/forests/201708/mangroves-nurseries-world


Nature’s carbon storehouse. Diakses pada 1 September 2023, dari https://www.cifor.org/feature/mangrove-natures-carbon-storehouse/



Solusi Banjir Rob di Utara Jakarta, Pemprov DKI Diminta Restorasi Kawasan Pesisir. Diakses pada 1 September 2023, dari https://megapolitan.kompas.com/read/2022/12/28/12195751/solusi-banjir-rob-di-utara-jakarta-pemprov-dki-diminta-restorasi-kawasan


Supertrees: Meet Indonesia’s Carbon Guardian. Diakses pada 5 September 2023, dari https://www.vox.com/2019/12/12/21009910/climate-change-indonesia-mangroves-palm-oil-shrimp-negative-emissions-blue-carbon



28 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page