top of page

Menanam Bakau dalam Kolaborasi untuk Keberlanjutan Lingkungan Hidup

Diperbarui: 23 Agu 2023


Penanaman bakau CarbonEthics dilakukan oleh petani lokal.

Ekosistem Pesisir


Pesisir menjadi salah satu ekosistem yang penting dalam lingkungan serta keberlangsungan hidup masyarakat. Keberadaannya memiliki peran multifungsi baik secara fisik, ekologi, sosial, dan ekonomi. Namun di sisi lain, kawasan pesisir kerap kali menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Salah satu upaya efektif untuk menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir adalah dengan program menanam bakau. Bakau, atau mangrove, memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, karena akarnya yang kuat dapat mengurangi erosi pantai dan menahan genangan air dari banjir. Selain itu, bakau juga berperan penting dalam menyerap karbon dioksida dan mereduksi dampak perubahan iklim.


Tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, menanam bakau juga menjadi kesempatan berharga bagi perusahaan untuk berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi antara perusahaan dalam program menanam bakau memberikan peluang untuk memperkuat reputasi perusahaan sebagai agen perubahan positif dalam lingkungan bisnis, membangun dan mengembangkan citra brand kepada kustomer, dan mendapat dukungan dari pihak pemerintahan.


Daftar Isi:

A. Pengertian dan Peran Ekosistem Bakau bagi Lingkungan dan Masyarakat Pesisir
B. Potensi dan Kolaborasi bagi Bisnis dalam Menanam Bakau
C. Benefit dan Manfaat Bisnis dalam Kolaborasi untuk Program Menanam Bakau
3. Akses Pembiayaan dan Dukungan dari Pihak Eksternal
D. Model Kolaborasi Bisnis dalam Menanam Bakau
2. Pendekatan Kolaboratif antaran Bisnis dan Lembaga Lingkungan
E. Studi Kasus: The European Parliament’s Committee on Transport and Tourism (TRAN) dan Komitmennya untuk Mendukung Transportasi dan Pariwisata yang Berkelanjutan
F. Panduan untuk Memulai Inisiatif Menanam Bakau dalam Kolaborasi Bisnis
1. Identifikasi Mitra Potensial dan Stakeholder
2. Rencana Aksi dan Riset Lokasi Menanam Bakau
3. Monitoring dan Reporting Dampak Program


Pengertian dan Peran Ekosistem Bakau bagi Lingkungan dan Masyarakat Pesisir


Pengecekan dan pendataan kondisi lingkungan penananam bakau

Ekosistem bakau merupakan ekosistem yang hanya ditemukan di daerah tropis dan sub tropis serta biasa di temukan di daerah pantai yang berlumpur dan berair tenang. Ekosistem bakau juga disebut dengan ekosistem hutan payau karena terdapat di daerah payau atau estuari, yaitu daerah perairan dengan kadar garamnya lebih tinggi daripada ekosistem air tawar.


Selain kemampuan adaptasinya untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras, ekosistem bakau berperan penting dalam lingkungan pesisir. Begitu penting karena mampu memberikan sejumlah manfaat yang luar biasa. Pertama-tama, akar-akar bakau yang kompleks berfungsi sebagai benteng alami yang efektif dalam melindungi pesisir dari abrasi dan dampak buruk gelombang laut, membantu menjaga kestabilan garis pantai. Selain itu, bakau berperan sebagai tempat berlindung, berkembang biak, dan mencari makan bagi berbagai spesies hewan seperti ikan, burung, dan invertebrata. Dalam hal ini, ekosistem bakau berfungsi sebagai kawasan penyangga atau nursery yang vital bagi keberlangsungan kehidupan biota laut dan darat.


Tidak hanya bagi lingkungan, tetapi peran ekosistem bakau juga sangat berarti bagi masyarakat pesisir. Masyarakat yang tinggal di sekitar ekosistem bakau mendapatkan manfaat langsung dari sumber daya alam yang disediakan, seperti ikan, kerang, dan kepiting yang merupakan sumber pangan yang penting. Selain itu, beberapa komunitas pesisir juga mengandalkan ekosistem bakau untuk kegiatan ekonomi seperti pariwisata, wisata alam, dan penanaman bakau itu sendiri yang dapat memberikan sumber penghasilan bagi masyarakat setempat.


Dalam keseluruhan, ekosistem bakau adalah bagian tak terpisahkan dari keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekologi di wilayah pesisir. Perlindungan dan pengelolaan yang bijaksana terhadap ekosistem bakau menjadi peran penting dalam menjaga ekosistem yang sehat dan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat pesisir yang bergantung padanya.



Potensi dan Tantangan dalam Menanam Bakau


Petani lokal sedang merawat bibit bakau yang akan ditanam

1. Tantangan dalam Implementasi Program Menanam Bakau


Implementasi program menanam bakau, meskipun memiliki manfaat yang besar, juga dihadapkan pada sejumlah tantangan yang perlu diatasi dengan bijaksana. Salah satu tantangan utama adalah pemilihan lokasi yang tepat untuk penanaman bakau. Ekosistem bakau harus ditanam di wilayah pesisir yang tepat, mempertimbangkan kondisi hidrologi, geologi, dan ketersediaan lahan yang sesuai. Selain itu, memastikan keragaman jenis bakau yang tepat juga menjadi pertimbangan penting agar ekosistem yang ditanam dapat berfungsi secara optimal dalam memberikan manfaat lingkungan dan masyarakat.


Tantangan lainnya adalah pembiayaan dan sumber daya manusia yang cukup untuk menjalankan program ini secara berkelanjutan. Menanam bakau memerlukan investasi waktu, tenaga, dan sumber daya finansial yang signifikan, terutama untuk tahap perawatan dan pemantauan pasca-penanaman. Diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengumpulkan dana dan menciptakan model pendanaan yang berkelanjutan.


Aspek sosial dan kesadaran masyarakat juga menjadi tantangan penting dalam implementasi program menanam bakau. Melibatkan dan mendukung partisipasi aktif masyarakat lokal sangatlah krusial. Edukasi dan kesadaran akan manfaat ekosistem bakau bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari masyarakat harus ditingkatkan, sehingga mereka merasa memiliki keterlibatan dalam menjaga dan melindungi ekosistem tersebut.


Selain itu, keberlanjutan program menanam bakau juga bergantung pada upaya pemantauan dan evaluasi berkala. Monitoring yang tepat akan membantu mengukur efektivitas program dan mengevaluasi dampak nyata dari penanaman bakau. Tantangan teknis dalam pelaksanaan pemantauan, seperti teknologi yang digunakan dan keterbatasan sumber daya, juga harus diatasi agar program dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan hasil yang optimal.



Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, kolaborasi antara berbagai pihak, koordinasi yang baik, serta komitmen dan keterlibatan semua pemangku kepentingan akan menjadi kunci kesuksesan implementasi program menanam bakau.


2. Potensi dan Kolaborasi bagi Bisnis dalam Menanam Bakau


Menanam bakau tidak hanya merupakan langkah penting untuk pelestarian lingkungan, tetapi juga memiliki potensi besar bagi bisnis. Terlibat dalam program menanam bakau memberikan peluang bisnis yang bernilai tinggi bagi perusahaan. Program ini dapat meningkatkan reputasi perusahaan sebagai perusahaan yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan memberikan dampak positif pada citra perusahaan di mata konsumen dan mitra bisnis. Selain itu, melalui kolaborasi dengan lembaga lingkungan dan komunitas lokal, perusahaan dapat memperluas jaringan dan mengakses pasar yang lebih luas.


Dalam hal dampak lingkungan, menanam bakau membantu mengurangi dampak negatif dari jejak karbon perusahaan. Pohon bakau yang dapat menyerap karbon dioksida 5 kali lebih tinggi dibandingkan pohon pada umumnya, sehingga dapat membantu dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Di samping itu, kehadiran ekosistem bakau dapat berfungsi sebagai kawasan penyangga yang efektif, melindungi properti perusahaan dari abrasi pantai dan dampak buruk dari bencana alam seperti banjir dan badai.


Kolaborasi antar perusahaan dalam program menanam bakau juga dapat membawa manfaat dalam bentuk sumber daya dan keahlian. Perusahaan dapat saling bertukar pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan ekosistem bakau, memperkuat kapasitas dalam implementasi program, dan mencapai hasil yang lebih optimal. Selain itu, melalui kerja sama dengan pemerintah dan lembaga lingkungan, perusahaan dapat memperoleh dukungan dan akses ke program insentif yang mendukung upaya pelestarian ekosistem bakau.


Secara keseluruhan, potensi bisnis dan kolaborasi dalam menanam bakau sangat besar. Melibatkan perusahaan dalam program ini tidak hanya memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat pesisir, tetapi juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan daya saing, memperkuat reputasi, dan menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.



Program CSR yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat


Manfaat Bagi Institusi dalam Kolaborasi untuk Program Menanam Bakau


Data persepsi konsumen terhadap brand dan produk yang menerapkan “Green Company” di Vietnam pada September 2019.

Sumber: Pengaruh penerapan "Green Company" terhadap persepsi konsumen terhadap merek dan bisnisnya di antara warga perkotaan di Vietnam per September 2019.


1. Peningkatan Reputasi Perusahaan dalam Lingkungan Bisnis


Salah satu manfaat utama bagi institusi yang terlibat dalam kolaborasi untuk program menanam bakau adalah peningkatan reputasi perusahaan dalam lingkungan bisnis. Ketika sebuah perusahaan secara aktif berpartisipasi dalam inisiatif pelestarian lingkungan seperti menanam bakau, mereka menunjukkan komitmen yang kuat terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan.


Hal ini menciptakan citra perusahaan sebagai perusahaan yang peduli terhadap isu-isu lingkungan dan berkontribusi pada masyarakat. Reputasi perusahaan yang baik dalam hal keberlanjutan dapat menarik minat pelanggan, investor, dan mitra bisnis yang lebih luas. Dengan meningkatnya perhatian terhadap praktik bisnis yang ramah lingkungan, perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan dan pelestarian lingkungan akan memiliki keunggulan kompetitif dan dapat membangun hubungan jangka panjang yang lebih kuat dengan para pemangku kepentingan.


2. Membangun dan Mengembangkan Citra Brand


Manfaat besar bagi institusi dalam kolaborasi untuk program menanam bakau adalah kemampuannya untuk membantu membangun dan mengembangkan citra brand yang positif.

Terlibat aktif dalam inisiatif pelestarian lingkungan seperti menanam bakau mencerminkan komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan keberlanjutan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh McKinsey & Co, 66% dari seluruh responden dan 75% responden milenial mengatakan bahwa mereka lebih mempertimbangkan produk yang ramah lingkungan saat melakukan pembelian. Sehingga citra brand yang peduli terhadap lingkungan dan berkontribusi pada pelestarian alam dapat menciptakan daya tarik yang kuat bagi konsumen.

Dengan demikian, kolaborasi dalam program menanam bakau dapat membantu memperkuat citra brand, meningkatkan reputasi perusahaan, dan memperkuat ikatan dengan konsumen.


3. Akses Pembiayaan dan Dukungan dari Pihak Eksternal


Terlibat dalam inisiatif pelestarian lingkungan seperti menanam bakau dapat menarik perhatian dan dukungan dari pihak eksternal yang memiliki komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Salah satunya adalah Pemerintahan yang dapat memberikan insentif atau dana hibah untuk mendukung program menanam bakau.


Selain itu, lembaga lingkungan atau organisasi non-pemerintah juga dapat memberikan sumber daya, pengetahuan, dan bantuan teknis bagi keberhasilan program. Dengan adanya akses pembiayaan dan dukungan dari pihak eksternal ini, bisnis dapat lebih mudah mengimplementasikan program menanam bakau secara efektif dan berkelanjutan, serta memberikan dampak positif yang lebih luas pada pelestarian ekosistem pesisir.


Model Kolaborasi Institusi dalam Menanam Bakau

Kolaborasi Allianz Indonesia dengan CarbonEthics dalam program CSR penanaman mangrove pada event World Cleanup Day 2021.

Model kolaborasi institusi dalam menanam bakau melibatkan dua pendekatan utama, yaitu keterlibatan perusahaan dalam program lingkungan dan pendekatan kolaboratif antara bisnis dan lembaga lingkungan.


1. Keterlibatan Perusahaan dalam Program Lingkungan


Keterlibatan perusahaan dalam program lingkungan menjadi inti dari kolaborasi ini. Perusahaan berperan sebagai aktor utama yang turut serta dalam inisiatif menanam bakau dengan menyediakan sumber daya, tenaga kerja, dan pendanaan yang diperlukan untuk implementasi program. Melalui keterlibatan ini, perusahaan menunjukkan komitmen pada tanggung jawab sosial dan keberlanjutan lingkungan, menciptakan dampak positif bagi ekosistem pesisir, dan juga meningkatkan reputasi perusahaan sebagai agen perubahan yang peduli terhadap isu lingkungan.


2. Pendekatan Kolaboratif antara Bisnis dan Lembaga Lingkungan


Pendekatan kolaboratif antara bisnis dan lembaga lingkungan menjadi kunci keberhasilan dalam program menanam bakau. Dalam model ini, perusahaan bekerja sama secara erat dengan lembaga lingkungan atau organisasi non-pemerintah untuk merancang dan melaksanakan program dengan efektif.


Lembaga lingkungan menyediakan pengetahuan, panduan teknis, dan bantuan dalam pengelolaan ekosistem bakau. Kolaborasi ini memungkinkan adanya transfer pengetahuan dan sumber daya yang saling menguntungkan, serta menciptakan sinergi di antara para pihak terlibat. Pendekatan kolaboratif ini juga dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal, menciptakan kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya pelestarian ekosistem pesisir, dan membangun dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, sehingga program menanam bakau dapat berjalan dengan sukses dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat setempat.



Program CSR yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat


Studi Kasus: The European Parliament’s Committee on Transport and Tourism (TRAN) dan Komitmennya untuk Mendukung Transportasi dan Pariwisata yang Berkelanjutan


The European Parliament’s Committee on Transport and Tourism (TRAN) bersama CarbonEthics dan Bumi Journey di kegiatan penanaman mangrove di Kepulauan Seribu.

Studi kasus ini menggambarkan keberhasilan kolaborasi bisnis yang inspiratif dalam program menanam bakau melalui keterlibatan delegasi The European Parliament’s Committee on Transport and Tourism (TRAN) bersama dengan CarbonEthics dan Bumi Journey. Melalui kegiatan kunjungan ke Jakarta, The European Parliament’s Committee on Transport and Tourism (TRAN) menyampaikan kepada pemerintah Indonesia dan perusahaan untuk fokus untuk mendukung transportasi dan pariwisata berkelanjutan, termasuk upaya dekarbonisasi dan pemulihan pasca pandemi.


Selain melakukan kegiatan diskusi, delegasi TRAN bersama dengan CarbonEthics dan Bumi Journey menyatakan dedikasinya pada konservasi lingkungan dengan berpartisipasi pada penanaman pohon bakau untuk mengurangi jejak karbon yang ditimbulkan sektor transportasi serta melindungi infrastruktur pariwisata lokal.


Kolaborasi ini memperlihatkan komitmen kuat dari Delegasi TRAN dalam mengatasi isu-isu lingkungan, termasuk dampak dari transportasi dan pariwisata terhadap ekosistem pesisir. Melalui kemitraan dengan CarbonEthics dan Bumi Journey, program menanam bakau yang efektif telah diimplementasikan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah tersebut.


Keberhasilan kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan di sektor transportasi dan pariwisata, tetapi juga menciptakan model inspiratif bagi kolaborasi bisnis lainnya dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Studi kasus ini memberikan contoh konkret bagaimana ketika bisnis dan lembaga pemerintah berkolaborasi dapat menciptakan dampak yang positif dan berkelanjutan bagi lingkungan serta masyarakat lokal di wilayah pesisir.


Panduan untuk Memulai Inisiatif Menanam Bakau dalam Kolaborasi Bisnis


Masyarakat pesisir lokal yang dilibatkan dalam penanaman mangrove CarbonEthics

1. Identifikasi Mitra Potensial dan Stakeholder


Memulai inisiatif menanam bakau dalam kolaborasi bisnis memerlukan panduan yang komprehensif. Salah satu langkah kritis dalam panduan ini adalah identifikasi mitra potensial dan stakeholder yang akan terlibat dalam program. Mengidentifikasi mitra potensial yang tepat adalah langkah awal yang penting dalam membangun kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan. Mitra potensial ini dapat meliputi lembaga lingkungan, pemerintah, organisasi non-pemerintah, komunitas lokal, dan perusahaan lain yang memiliki visi dan misi yang sejalan dalam pelestarian lingkungan.


Melibatkan berbagai pihak sebagai mitra dalam program menanam bakau dapat membawa berbagai manfaat. Pertama, kolaborasi dengan lembaga lingkungan dan organisasi yang fokus pada pelestarian lingkungan dapat memberikan sumber daya, pengetahuan, dan dukungan teknis yang berharga dalam implementasi program. Keterlibatan pemerintah juga penting karena mereka dapat memberikan izin, regulasi, dan dukungan kebijakan yang diperlukan untuk kelancaran program. Sementara itu, keterlibatan komunitas lokal dapat memperkuat partisipasi masyarakat dalam program dan meningkatkan dampak positifnya bagi lingkungan pesisir.


Dengan mengidentifikasi mitra potensial dan stakeholder yang tepat, kolaborasi bisnis dalam inisiatif menanam bakau dapat mengintegrasikan sumber daya dan keahlian yang beragam, menciptakan sinergi yang kuat, dan mencapai tujuan pelestarian lingkungan secara bersama-sama.


2. Rencana Program dan Riset Lokasi Menanam Bakau


Penyusunan rencana program, merupakan langkah penting untuk menetapkan tujuan dan strategi pelaksanaan program dengan jelas dan terstruktur. Rencana program harus mencakup langkah-langkah konkret yang akan diambil, alokasi sumber daya, tanggung jawab pihak-pihak terlibat, serta target pencapaian yang dapat diukur. Dengan adanya rencana program yang terperinci, kolaborasi bisnis dapat berjalan dengan efisien dan terkoordinasi, sehingga dapat meningkatkan kesuksesan program menanam bakau.


Lalu selanjutnya adalah riset lokasi menanam bakau, yang berfokus pada pemilihan lokasi yang tepat untuk melakukan penanaman bakau. Riset ini melibatkan analisis mendalam mengenai kondisi lingkungan dan ekosistem pesisir di area yang akan dituju. Pertimbangan aspek hidrologi, geologi, dan ketersediaan lahan menjadi hal krusial dalam proses ini. Melalui riset lokasi yang mendalam, kolaborasi bisnis dapat menentukan wilayah yang paling optimal untuk menanam bakau, sehingga upaya pelestarian ekosistem pesisir dapat berdampak positif dan efektif.


3. Monitoring dan Reporting Dampak Program


Tahap ini memiliki peran krusial dalam memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program menanam bakau. Melalui monitoring, program dapat terus diawasi dan dievaluasi secara berkala untuk mengukur pencapaian tujuan serta kemajuan yang telah dicapai. Data dan informasi yang terkumpul dari monitoring ini menjadi landasan penting untuk mengidentifikasi keberhasilan program dan mengevaluasi efektivitas dari setiap langkah yang telah diambil.


Selain itu, tahap pelaporan dampak program juga merupakan elemen transparansi dan akuntabilitas dalam kolaborasi bisnis. Laporan ini akan berfungsi sebagai sarana untuk berbagi hasil dan manfaat dari program menanam bakau kepada mitra, stakeholder, dan masyarakat luas. Dengan melibatkan semua pihak terkait, pelaporan dapat memberikan wawasan yang lebih luas tentang pencapaian program dan memberikan kesempatan untuk menerima masukan dan umpan balik yang berharga.


Dengan mengikuti panduan untuk melakukan monitoring dan pelaporan dampak program, kolaborasi bisnis dalam inisiatif menanam bakau dapat berjalan dengan lebih efisien dan berhasil mencapai tujuan pelestarian lingkungan. Langkah ini akan menciptakan transparansi, kepercayaan, dan keterlibatan aktif dari semua pihak terkait, serta menghasilkan dampak positif yang lebih besar bagi ekosistem pesisir dan masyarakat setempat.



Bakau untuk Keberlanjutan Semua


Melalui program menanam bakau dapat memberikan manfaat penting bagi keberlanjutan lingkungan pesisir, seperti melindungi pesisir dari erosi dan gelombang laut serta menyerap karbon dioksida untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Selain itu, kegiatan menanam bakau juga membantu merevitalisasi ekosistem pesisir yang berfungsi sebagai nursery bagi kehidupan biota laut dan darat, serta menyediakan sumber daya alam yang vital bagi masyarakat pesisir seperti tangkapan laut dan pariwisata.


Dalam upaya pelestarian ekosistem bakau, kolaborasi dengan perusahaan menjadi kunci penting yang perlu dilakukan. Dengan kolaborasi ini, perusahaan dapat memperkuta reputasi sebagai pelaku bisnis yang mendukung keberlajutan dan menciptakan citra brand yang peduli terhadap isu lingkungan. Selain itu, melalui kolaborasi penanaman bakau juga membuka peluang perusahaan pada pembiayaan dan dukungan dari pihak eksternal seperti pemerintahan dan lembaga lingkungan. Dengan berpartisipasi dalam program menanam bakau, perusahaan tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat pesisir, akan tetapi juga turut berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan secara keseluruhan.



Program CSR yang berdampak dan berkelanjutan untuk alam dan masyarakat


Daftar Pustaka


Chatting, M., I. Al-Maslamani, M. Walton, M. W. Skov, H. Kennedy, Y. S. Husrevoglu and L. Le 2022. Future Mangrove Carbon Storage Under Climate Change and Deforestation. Frontiers in Marine Science. 9 (781876) : 1 - 14.



Jason Stern. The Business Benefits Of Corporate Social Responsibility Impact Assessments. Retrieved July 29, 2023, from https://www.forbes.com/sites/forbestechcouncil/2022/01/24/the-business-benefits-of-corporate-social-responsibility-impact-assessments/?sh=2557ad563209


Sattayapanich, T., P. Janmaimool and J. Chontanawat. 2022. Factors Affecting Community Participation in Environmental Corporate Social Responsibility Projects: Evidence from Mangrove Forest Management Project. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity. 8 (4) : 209.


23 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page